Mendukung Rekonstruksi Pusat Kesehatan desa Pakuli Utara

Sejak mulai masuknya ADRA Indonesia untuk rekonstruksi PUSTU Pakuli Utara melalui kegiatan musyawarh desa pada 24 April 2019. Dari hasil musyawarah tersebut, pihak pemerintah desalah yang bertanggung jawab untuk melakukan proses pembongkaran bangunan PUSTU lama secara swadaya oleh masyarakat setempat. Proses pembongkaran berlangsung selama kurang lebih 2 Minggu yaitu 10 Mei sampai dengan 23 Mei.

I.Proses Bidan Mencari dan Menemukan Tempat Tinggal dan Tempat Pelayanan Kesehatan Sementara

Pasca gempa 28 September silam, bidan tetap tempat tinggal dan menggunakan bangunan PUSTU sebagai tempat pelayanan sebagaimana biasanya. Dengan kondisi bangunan yang rusak berat, pelayanan kesehatan dilakukan tetap berjalan namun dilakukan di depan PUSTU dengan menggunakan tenda darurat. Karena masih menyimpan rasa trauma dan mengantisipasi jika terjadi gempa berikutnya. Ia pun menyampaikan rasa kekhawatirannya jika menjelang waktu tidur saat malam hari. Sebab, dinding dan lantai bangunan banyak retakan besar yang menurutnya sewaktu-waktu dapat rubuh jika gempa datang mengguncang kembali.
Ketika mengetahui bahwa ADRA akan melakukan program rekonstruksi PUSTU melalui musyawarah desa yang juga dihadiri oleh bidan, ia mendengar bahwa bangunan PUSTU tersebut akan segera dibongkar. Mengetahui hal itu, jauh hari sebelum proses pembongkaran dimulai, bidan beserta suaminya segera mencari tempat tinggal untuk menetap sementara sampai dengan masa rekonstruksi PUSTU selesai. Dari usaha pencarian tersebut, akhirnya mereka ditawari oleh salah seorang warga pemilik bangunan ruko yang juga bersebelahan dengan bangunan PUSTU. Semenjak pindah di bangunan ruko tersebut pada tanggal 25 April, ia juga memfungsikannya sebagai PUSTU sementara agar proses pelayanan kesehatan tetap ada dan berjalan. Beda tempat beda pula suasana, itulah yang dialami oleh bidan selama berada dan melakukan pelayanan kesehatan di tempat tinggal tersebut.

Pengalaman Bidan Selama Melakukan Pelayanan Kesehatan

Bidan pun menceritakan pengalaman dan kejadian yang dialaminya selama berada di PUSTU sementara. Mulai dari pelayanan kesehatan yang kurang optimal seperti kapasitas ruangan yang sempit, ketidaktersediaan ruang privasi bagi pasien, MCK tidak ada dan waktu operasional kerja yang tidak menentu disebabkan ada pasien yang dating berkunjung bahkan dijam istirahat. Selain itu, jumlah pasien yang berkunjung relative berkurang dibandingkan sewaktu masih pelayanan di PUSTU lama. Menurutnya, penyebab hal itu adalah ketidaktahuan masyarakat tentang keberadaan tempat tersebut sebagai PUSTU sementara. Sehingga pasien yang sebelumnya biaasa datang berkunjung untuk berobat kini beralih ke Polindes Pakuli Induk, Polindes Simoro dan PUSKESMAS Pandere. Juga beberapa peralatan kesehatan rusak dan tidak berfungsi lagi seperti timbangan anak, timbangan dewasa dan alat tensi yang harusnya segera digantikan yang baru.
Selama ini belum pernah ada kegiatan posyandu untuk desa Pakuli Utara juga belum ada ibu yang melahirkan di PUSTU sementara. Ia pun mengatakan bahwa belum ada pasien yang datang berkunjung mengeluh dengan pelayanan dan ruangan seadanya. Akhir kata ia juga menyampaikan rasa senangnya serta ucapan terima kasih banyak kepada ADRA Indonesia yang telah membantu desa mereka dalam membangun kembali PUSTU yang baru.
Bahkan saat acara untuk mendirikan tiang raja sebagai symbol utama bangunan menurut masyarakat setempat, bidanpun sendiri memfasilitasinya dengan membuat acara syukuran yang menyuguhkan makanan ala kadarnya untuk disantap bersama-sama. Acara tersebut dilakukan dengan maksud untuk memperoleh keberkahan atas bangunan tersebut agar terhindar dari hal-hal buruk dengan diiringi pembacaan doa keselamatan oleh imam setempat. (Hasil wawancara langsung dengan bidan pada hari Senin 17 Juni di tempat tinggalnya).

III.Pengalaman Pasien Yang Datang Berkunjung Untuk Berobat
Irpa Tri Astuti

Cerita lain juga berasal dari salah satu pasien yang biasa berkunjung, ibu Irpa Tri Astuti (28 tahun) yang hamil dengan umur kandungan 7 bulan. Selama ini, sudah 2 kali ia datang berobat ke PUSTU sementara. Kunjungannya ialah untuk melakukan tensi pemeriksaan tekanan darah, meminta obat penambah darah dan diberi makanan tambahan untuk kebutuhan gizi ibu dan janin. Ia juga mengatakan bahwa pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh bidan di PUSTU sementara tersebut sama halnya seperti PUSTU lainnya, dengan tidak merasa kekurangan maupun ketidaknyamanan saat berobat. Pada kesempatannya, ia pun menyampaikan kesan terhadap pembangunan PUSTU di desanya yaitu sebuah rasa syukur dan ucapan terima kasih kepada ADRA karena telah membantu dalam hal rekonstruksi PUSTU.

IV.Para Tukang dan Buruh Tetap Berpuasa Saat Bekerja

Menjelang memasuki bulan puasa, para tukang dan buruh berjumlah 7 orang terdiri dari 2 tukang (Seppe dan Damran) dan 5 buruh (Sahid, Fadlil, Hajam, Farid,Toni) yang mengerjakan pembangunan PUSTU tahap pengerjaan pondasi saling berunding untuk membicarakan waktu kerja mereka jika saat menjalankan ibadah puasa nanti. Karena menurut mereka, pengerjaan pondasi merupakan bagian terberat dalam pekerjaan bangunan. Ketua RT yang juga sebagai salah satu pekerja (buruh) bernama Sahid (50 tahun), menyarankan agar jam kerja saat bulan puasa dimulai pukul 7 pagi, lalu istirahat pukul 11 siang. Kemudian mulai kerja lagi pukul 2 siang dan selesai kerja pukul 5 sore. Ia menyampaikan saran tersebut agar tidak terlalu memaksakan tenaga diwaktu-waktu kritis saat berpuasa juga memanfaatkan waktu dengan seefisien mungkin. Mendengar saran itu, para pekerja lain merespon baik dan menyetuju jadwal kerja sebagai acuan waktu kerja mereka. Sehingga selama bulan puasa berlangsung, mereka tetap berpuasa saat bekerja. Disela-sela pekerjaan, mereka menggunakan musik dan memutarnya dengan volume tinggi sebagai penghibur. Selain itu, para tukang dan buruh juga menyempatkan diri untuk saling bercanda agar menciptakan suasana kerja yang santai namun tetap fokus.

Leave your comment